Kamis, 20 Desember 2012

Contoh Puisi Esai


Ini ada contoh puisi esai bikinan sendiri, tadinya mau diikutin lomba, tapi malah lupa ngiriminnya. jadi daripada mubazir ya sudah saya post aja :)
di baca yaaaa

Seorang Rani
#
Seorang istri
Menjerit menciptakan kegundahan sang suami
Berteriak dalam sebuah perjuangan
Menjambak rambut ibunya
Meremas jari-jari suaminya
Hanya untuk bayi kecil dalam perutnya
Yang sebelumnya selalu dielusnya
Memastikan ia baik-baik saja
Yang sudah lama dinantikan kehadirannya
Yang sudah disiapkan sambutan  untuknya
Baju mungil yang dibeli ayah dan ibunya
Jauh sebelum ia lahir ke dunia
Tempat tidur empuk
Agar ia yang dinantikan tidur pulas tanpa kesakitan
Yang akan segera menjadi kebanggaan
Ayah serta ibunya.
#
Tepat pukul 23:00 WIB
Rani terlahir di dunia
Begitulah nama yang telah disiapkan
Untuk sesosok bayi kecil
Yang sudah kurang lebih 300 hari dalam kandungan
Perut sang ibu.
Kini rani mulai menangis
Menjawab semua gelisah seorang ibu
Yang ketakutan tak bisa melahirkan Rani, bayi kecilnya
Sang ibu, tergeletak tak bertenaga
Ia tak percaya
Ia kuasa
Melahirkan anak manusia
Seorang bayi cantik yang telah hidup dalam rahimnya
#
Suatu malam tangis Rani memecah malam
Ibunya terbangun menghampiri Rani
Di tanyanya:
“kenapa nak kau menangis?”
“apakah kau lapar anakku?”
Rani tak menjawab
Rani terus saja menangis
Ibu Rani mulai khawatir
Ia sedikit berlari untuk membuat makanan
Rani mulai berhenti menangis
Dan kemudian terlelap di pangkuan ibunya
#
Rani beranjak remaja
Kini Rani menginjak 16 tahun
Setelah setahun sebelumnya
Ibunya meninggal karena mengidap penyakit
Rani ingat dengan jelas
Saat ibunya kesakitan
Tidak bisa menghadiri pesta perpisahan sekolahnya
Tidak bisa melihat Rani yang kini mulai beranjak remaja
Tidak bisa mendengarkan cerita ketika:
Hari pertama Rani bersekolah di SMA
Rani memenangkan lomba puisi di SMAnya
Rani merasa malu karena terpeleset di kelas
Rani dihukum menyanyi potong bebek karena lupa mengerjakan PR
Juga ketika Rani Jatuh Cinta
#
Rani mengingat perbincangannya dengan papanya
Papa :
“Dengarlah Rani!
Walau mamamu tak ada bersamamu kini
Janganlah kau merasa jauh dengannya
Hidupkan ia dalam hatimu
Seperti ia memberi kehidupan untukmu dalam rahimnya
Janganlah kau melupakannya
Sertakan ia dalam setiap doamu
Seperti ia selalu menyebutmu dalam doa-doanya
Janganlah kau membencinya
Renungkanlah dirimu yang tumbuh sempurna
Karena ibumu tak sedetikpun membiarkanmu
Ketika kau menangis yang tak dimengerti olehnya
Ia menawarkan segalanya untukmu
“kau lapar?”
“kamu haus, sayang?”
“kamu mau mainan?”
“sini ibu gendong!”
Ingatlah itu Rani !”
Rani:
“Tapi mama pernah memarahiku,
Papa ingat kan ketika aku tidak mau mandi?
Mama menyeretku hingga kamar mandi
Tak peduli aku menangis.
Aku berfikir kala itu mama kejam, pa”
Papa:
“Rani,apa kau melupakan ketika mamamu menyuruhmu mandi sebelumnya
Apa yang diucapkan mamamu?”
Rani:
“mama bilang ‘Rani sayang, ayo cepat mandi! Nanti biar wangi .”
Papa:
“nah itu kamu ingat, mamamu juga tidak hanya sekali kan mengingatkanmu.
Rani, mama bukan kejam nak
Dia hanya kehabisan cara membujukmu agar mau mandi
Dia kehabisan cara agar kamu mau menjadi seseorang yang disebutnya ketika membujukmu mandi
Agar Rani wangi, cantik, sehat.
Tapi Rani malah menolaknya
Mamamu sedih Rani,
Terpaksa mamamu menyeretmu untuk mandi
Karena mamamu takut kamu dijauhi temanmu karena kamu bau
Setelah kamu mandi pun mamamu meriasmu dengan sangat cantik, bukan?
Itu membuktikan ia sebenarnya tidak kejam
Dia ingin memberikan yang terbaik untuk Rani.
Coba bayangkan
Jika kala itu mamamu tidak menyeretmu mandi
Mungkin sampai saat ini kamu malas mandi
Dan tidak akan secantik sekarang. Iya kan?
Rani hanya tersenyum mengingatnya
Rani berbaring
Iya menutupi tubuhnya dengan selimut
Seraya berkata lirih
“selamat malam, ma”



4 komentar: